jump to navigation

Ngidam alpukat puncak August 4, 2008

Posted by arachmat in Catatan harian, Jalan - jalan.
add a comment

Aneh, mama yang satu ini bener bener aneh..masa ngidamnya alpukat puncak…padahal dah dibeliin di tukang buah deket rumah tapi tetep aja masih minta..Akhirnya minggu 29 july 2008 saya dan istri berangkat juga kepuncak, kebetulan kali ini tanpa abid mengingat perjalanan yang cukup jauh dan menggunakan motor dan lagi pula hari ini nenek dan kakeknya mau ngajak abid ke ancol..

Saya dan istri berangkat jam 07.30 dari rumah, rutenya rumah-parung-bogor-ciawi-puncak..Awalnya saya mengajak istri ke curug cilember tapi akhirnya kita ke gunung mas, lumayan enak tempatnya dan enaknya karena pake motor kita keliling kebun tehnya pake motor. Setelah merasa laper, kamipun mencari makan di dekat kolam. Setelah selesai makan kami sempatkan dulu berfoto – foto di kebun teh. Sekitar pukul 12 siang kami putuskan untuk turun mengingat cuaca sepertinya mendung dan niatnyapun kesampean, beli alpukat di cisarua…Gimana kabar abid ya di ancol…????

Abid merasakan kehadiran sang adik August 4, 2008

Posted by arachmat in Catatan harian.
add a comment

Yup!ini bisa dilihat dari sikap abid..sewaktu masih baru hamil (program akan punya dede lagi untuk abid). Ketika usia kandungan sekitar 2 bulan sikap abid sangat berubah menjadi manja, kolokan, suka cari perhatian sama saya dan mamanya, tapi apa yang terjadi sekarang….Saat ini saya dan mamanya membiasakan memanggil dia aa karena sebelumnya dede, dan dia sudah bisa mengerti klo ada dede di perut mama katanya..Abidpun sering mengajak dedenya yang ada di perut mamanya bicara, “dede jangan nakal ya..jangan nendang peyut mama…”

Sekarangpun, dengan mamanya abid menjadi sangat perhatian pernah satu hari ketika kondisi mamanya lagi drop dan dirumah hanya mereka berdua, mamanya lagi tiduran eh tau taunya abid ambilin selimut dan menyelimuti mamanya, kemudian dia bertanya mama sakit ya? Mamanya jawab iya terus dia pijitin kepala mamanya….

Belajar bahasa inggris… August 4, 2008

Posted by arachmat in Catatan harian.
add a comment

Poster poster yang di belikan mama mertua untuk abid ketika usia abid baru 1 tahun sepertinya baru berguna sekarang. Saat ini poster poster tersebut saya temple di dinding kamar dan di letakkan dekat dengan tempat tidur. Poster poster tersebut antara lain untuk belajar huruf hijaiyah, mengenal buah buahan, alat alat trnsportasi,huruf dan angka.

Bagi saya ini salah satu cara yang ampuh untuk si kecil menambahkan kosakatanya, buktinya sampe saat ini abid sudah mengenal cukup banyak buah buahan dalam bahasa inggris dan indonesia kaya pisang banana melon mask melon, semangka watermelon, jeruk orange, apel apple, anggur grape, kucing cat, anjing dog, bulan moon, mobil car, 1,2,3,4 , alif, ba, ta, tsa.

Kayanya udah lumayan banyak dan memang dengan adanya poster poser tersebut abid sering bertanya pah, ini apa…..kadang papa / mamanya sendiri klo ga baca ga tau…:D

Ikut Shalat August 4, 2008

Posted by arachmat in Catatan harian.
add a comment

Abid belum genap berusia 3 tahun tapi semakin hari, hari yang saya dan mamanya abid jalani dibuat semakin berwarna saja. Sekarang ini ketika saya akan shalat abid pasti selalu meminta saya untuk mengenakan kain sarung kepadanya, kemudian dia ikut shalat dengan saya sampe selesai. Ini bedanya dulu dengan sekarang, klo sekarang abid mengikuti semua gerakan yang saya lakukan dalam shalat sampe selesai.



Terkadang suka geli sendiri melihat tingkahnya, hampir semua gerakan saya ketika shalat di ikutinya, pernah satu waktu saya menggaruk kepala ehhh dia ikutan juga…Selesai shalat biasanya abid saya ajarkan untuk membaca doa kedua orang tua beserta artinya soalnya saat ini dia baru hafal di bobo aja…eh iya klo abis selesai doa dia langsung cium tangan dan setelah itu dia sungkem kepada saya dan mamanya…Yahh..semoga saja abid jadi anak yang shaleh berbakti kepada kedua orangtuanya, sayang terhadap sesama, murah rezekinya, ngga sombong, mau berbagi kepada sesama..pokoknya papa dan mama selalu doain abid.

Alhamdulillah ngga di opname August 1, 2008

Posted by arachmat in Catatan harian.
add a comment

Ya walaupun harus masuk RSPP tapi saya masih mengucap syukur karena istri ga sampe dirawat. Kali ini bukan Myasthenianya yang menyerang tapi penyakit maagnya. Awalnya, selasa malam saya dan istri kontrol ke dokter kandungan di RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, alhamdulillah sepertinya tidak ada masalah dan semua baik – baik saja. Kami pulang sekitar pukul 22.30 dan saya langsung tidur. Tapi sekitar tengah malam istri membangunkan saya dalam keadaan menangis karena menahan sakit perutnya. Sentak saya kaget dan membangunkan ibu mertua yang kebetulan lagi menginap malam itu.

Akhirnya saya putuskan untuk membawa istri ke RSPP karena kondisinya tak kunjung membaik dan saya khawatir dengan penyakit Myasthenia Gravis serta janin yang ada dalam kandungan. Sesampainya di RSPP, langsung di bawa ke UGD, sekitar jam 1 dini hari sampe akhirnya saya dan abid tertidur di ruang tunggu ketika dokter membangunkan saya sekitar pukul 4.30 pagi dan menyatakan kalau kondisi istri saya sudah membaik dan bisa pulang. Alhadulillah saya lega mendengarnya. Sesampainya saya dirumah cuma satu tujuan saya tidur lagi…ya terpaksa libur isra mi’raj kali ini di isi dengan tidur dari jam 7 pagi sampe jam 2 siang…heheheeee…

Aku Menangis Untuk Adikku 6 Kali July 3, 2008

Posted by arachmat in Catatan harian.
add a comment

(Dikutip dari : http://epriabdurrahman.multiply.com/journal/item/99/Kisah_Mengharukan_Semoga_Bermanfaat)

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan,
“Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,
“Ayah, aku yang melakukannya!”
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,
“Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten.

Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,
“Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:
“Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata ber- cucuran sampai suaraku hilang.

Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) . Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”
Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku.

Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. ..”Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.

Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya?
Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit.Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.
“Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan.
Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku.

Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya.

Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.Kata- kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Menanti kehadiran sang buah hati July 3, 2008

Posted by arachmat in Catatan harian.
add a comment
Kabar gembira untuk kami sekeluarga, selasa malam ( 1 July 2008). Saya mengantar istri ke RS. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tujuan kami untuk mengecek apakah istri saya positif hamil atau tidak. Ya..memang kami sudah merencanakan untuk memberikan Abid Ramadhan seorang adik sekaligus teman. Setelah menunggu sekitar 3 jam akhirnya kami bertemu juga dengan dr. Teti SpOg. Kami baru pertama konsul dengan dokter ini tapi beliau cukup baik dan cukup komunikatif.

Tibalah saat yang mendebarkan, istri saya di USG dan hasilnya……Alhadulillah istri saya sudah positif dan kandungannya sudah berumur 2 bulan. Ada satu hal yang agak membuat saya terkejut, sang dokter bertanya apakah ada keturunan kembar dari keluarga kita????

Semoga saja semuanya berjalan dengan baik dan lancar tanpa ada gangguan yang bearti, dan semoga saja anak yang lahir kelak menjadi anak shaleh/shalehah, berbakti kepada kedua orang tua, dan sukses di dunia dan akhiratnya…Bukankan itu dambaan setiap orang tua…

Menanti kehadiran sang buah hati ke 2 July 3, 2008

Posted by arachmat in Catatan harian.
add a comment

Kabar gembira untuk kami sekeluarga, selasa malam ( 1 July 2008). Saya mengantar istri ke RS. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tujuan kami untuk mengecek apakah istri saya positif hamil atau tidak. Ya..memang kami sudah merencanakan untuk memberikan Abid Ramadhan seorang adik sekaligus teman. Setelah menunggu sekitar 3 jam akhirnya kami bertemu juga dengan dr. Teti SpOg. Kami baru pertama konsul dengan dokter ini tapi beliau cukup baik dan cukup komunikatif.

Tibalah saat yang mendebarkan, istri saya di USG dan hasilnya……Alhadulillah istri saya sudah positif dan kandungannya sudah berumur 2 bulan. Ada satu hal yang agak membuat saya terkejut, sang dokter bertanya apakah ada keturunan kembar dari keluarga kita????

Semoga saja semuanya berjalan dengan baik dan lancar tanpa ada gangguan yang bearti, dan semoga saja anak yang lahir kelak menjadi anak shaleh/shalehah, berbakti kepada kedua orang tua, dan sukses di dunia dan akhiratnya…Bukankan itu dambaan setiap orang tua…

Abid Semakin Pintar… April 2, 2008

Posted by arachmat in Catatan harian.
add a comment
Kejadian ini memang cukup menggelitik kami sekeluarga ketika bapak / ibu mencertikan kepada kami. Sekitar seminggu yang lalu bapa/ibu dari istri saya menginap dirumah untuk menemani istri saya yang baru pulang opname dari RS. Islam Cempaka Putih. Malam itu Abid bobo sama Abi dan Uminya (Panggilan untuk kakek & nenek), dan malam itu ternyata abid bangun jam 2 pagi untuk minta susu, biasanya sich setelah minum susu abid langsung bobo lagi, tapi ngga untuk kali ini.

Ketika Abinya mau tahajjud dan Uminya terlelap lagi dan Abid sendiri, tiba – tiba Abid menyanyikan sebuah lagu..lagunya The Rock (Munajat Cinta) yang disyairnya malam ini ku sendiri, tak ada yang menemani……
Saya dan istri saya tertawa mendengar cerita tersebut, satu kesimpulan yang dapat saya ambil daya tangkap anak seusia abid cukup tajam, jadi berhati-hatilah dalam bertingkah laku atau bertutur kata…

Mengajak Abid Shalat ke Masjid April 2, 2008

Posted by arachmat in Catatan harian.
add a comment

Sebenarnya udah lama saya ingin mengajak abid untuk ikut shalat berjamaah di masjid dekat rumah, tapi selama ini saya takut kalau nanti abid pipis atau ngompol. Tapi beberapa bulan ini dia sudah jarang ngompol dicelana, makanya sabtu dan minggu kemarin saya ajak dia ke masjid dekat rumah untuk shalat berjamaah.

Awalnya saya khawatir kalau abid akan nangis, ngompol atau ikut – ikutan main sama teman – teman sebayanya. Tapi syukur abid malah diam dan berdiri disebelah saya sambil merhatiin orang – orang shalat. Memang penting mengajarkan anak sejak dini untuk shalat berjamaah di masjid, akan tetapi menjadi dilema juga ketika melihat masjid di tempat saya tinggal di penuhi oleh anak-anak kecil yang bermain, lari – lari sampai teriak – teriak di dalam masjid.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.